Sabtu, 16 Februari 2013

Jika Tuhan Bertanya

Jika Tuhan bertanya apa yang kau cari tiap minggu di rumah-Ku, apa yang akan kau katakan?
Aku punya banyak jawaban religius yang sangat rohani.
Dia kembali bertanya, "Apakah itu jawaban sebenarnya, isi hatimu?"
Aku terdiam. Aku menjawab dengan berbagai alasan.
Dia hanya berkomentar, "Benarkah itu?"
Aku gemetar. "Iya" kataku dalam hati, aku berusaha meyakinkan diriku sendiri.
Dia terdiam, hanya menatapku.
Tatapan itu jauh menusuk hatiku, seolah bisa melihat seluruh isi hatiku.
Tetapi Dia memang mengetahuinya.
Tersiksa namun tak berani menatap balik.
Pada akhirnya, setelah sekian lama tertegun, air mataku mengalir........
Aku terjatuh, tertunduk.
Aku berkata, "...................................................................

Jumat, 15 Februari 2013

Catatan Puisi Tulang Jemmy.... (Pamanku)

Catatan kecil yang dia buat di laptopku:



Aku masih ingat ini bulan Desember yang indah sekali.
Hatimu rindu sekali hari ini diriku nanti dari jauh ingin rasa bertemu kamu
Sampai kembali wajahmu rindu hari di bulan Besember yang indah sekali
Kenangan bulan desember selalu bersamaku senang hatimu bertemu senyum yang manis sekali
Ketika pergi hatimu selalu ingat diriku dari jauh sekali rindu kembali kota yang indah
Selalu ingat kenangan berdua nanti di gereja hatimu senang sekali bertemu padaku
Wajahmu lihat diriku senang sekali bertemu ingin kembali masalalu berdua selamanya
Hari-hari yang indah di bulan desember selalu kuingat bersama mu senyummu senang sekali
Sampai jauh hatimu pergi tampak kabar dari ku selalu nanti hatiku selalu sendiri tampak dirimu
Hatimu duduk lihat jauh air mata jatuh pipimu selalu rindu padaku ingin bertemu lagi sampai sayang

Maafkanlah Aku



Di sebuah stasiun kereta api yang sederhana dan sepi, aku duduk termenung memperhatikan rel kereta api yang sudah usang dimakan oleh waktu. Aku duduk di sebuah kursi panjang di sudut stasiun. Temanku yang bernama Joe, duduk agak berjauhan dariku namun pada kursi yang sama. Tak ada kata terucap diantara kami seolah ada suatu penghalang yang membatasi kami. Udara di sekitar stasiun itu begitu dingin dan berkabut, namun tidak membuat hatiku yang panas dan marah menjadi dingin……………angin yang membelai dirikupun tak mampu meredakan amarahku yang sudah sampai keubun-ubun.
Setelah beberapa lama aku mencoba untuk menahan amarahku, akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya kepadanya. “Kenapa,……kenapa Joe, kau tega lakukan itu kepadaku? Bukankah kau tahu bahwa aku sangat mencintai Angela…..” gumamku…… namun dia diam saja seolah tak menghiraukan apa yang baru aku katakan. “Teganya kau padaku Joe, padahal kau sudah kuanggap sebagai teman bahkan saudara kandungku sendiri” nada suaraku semakin tinggi seiring dengan perihnya sakit hati yang kurasakan.
“Saat itu dia begitu menantikanmu hari demi hari, bulan demi bulan dan bahkan bertahun-tahun!!! Aku yang mendampinginya pada saat dia sakit dalam penantiannya. Jadi apa salahku jika akhirnya kami harus menikah dan memulai lembaran baru………………bukankah kau tak pernah memberinya kabar berita….” Joe mencoba memberi penjelasan dan berjalan kearahku dan hendak mengatakan sesuatu kepadaku…..namun aku terburu emosi dan memotong perkataan dia.
Apa kau bilang?!! Aku berteriak dan berdiri sambil memandang dengan tatapan yang tajam. “Bukankah aku selalu mengirimkan surat setiap minggu. Justu aku yang seharusnya bertanya; kenapa tidak ada balasan! Aku begitu putus asa didalam perantauanku, tapi aku tetap memegang janjinya bahwa dia akan menungguku walau apapun yang terjadi. Tapi apa yang kudapat, sahabatku sendiri yang aku percayai untuk menjaganya malah menusuk aku dari belakang.
Kubalikan badanku dan kutatap samar-samar bayangan rumah-rumah penduduk yang hampir tertutup kabut yang sudah mulai menebal. Aku terdiam……………terlintas 15 tahun yang lalu waktu itu kami selalu bermain bersama didalam tebalnya kabut yang turun menutupi kebun-kebun teh dimana kami bermain. Kami berlari mencari gubuk untuk berlindung. Kami terus bermain tanpa menghiraukan keadaan disekitar. Kejadian demi kejadian terlintas dibenakku. Joe adalah anak seorang pemilik kebun teh didaerahku. Dia sangat manja dan malas sekali, terkadang aku harus selalu menemaninya kemana saja dia mau pergi. Aku juga yang selalu berkelahi dengan anak-anak dari kampung sebelah untuk menolong dia. Hanya akulah teman yang dia miliki dan yang bisa dia andalkan. Walaupun manja tetapi Joe adalah orang yang bisa aku percaya dalam banyak hal. Sampai suatu saat aku bertemu dengan seorang anak baru di daerah kami yang bernama Angela. Ayahnya Angela adalah seorang insinyur pertanian yang ditugaskan oleh pemerintah, sedang ibunya adalah guru. Ketertarikanku akan pertanian dan penelitian menyebabkan aku sering datang dan berkunjung kerumah Angela. Aku sering pergi bersama Joe, dan akhirnya kami bertiga sangat akrab sekali.
Tak terasa waktu terus berlalu, kami sudah mulai tumbuh dewasa. Ada getar terasa waktu aku dekat dengan Angela. Perasaan inipun bisa kurasakan dari sikap Angela yang mulai menaruh perhatian lebih kepadaku dibandingkan dengan Joe. Akhirnya aku ungkapkan perasaanku itu kepada Angela dan ternyata gayungpun bersambut dan kami akhirnya memutuskan untuk menjadi lebih dari sahabat. Walaupun ibunya kurang menyetujui hubungan kami ini namun kami terus bertahan dan Joe mendukung hubungan kami. Selepas masa SMA, aku berusaha untuk melanjutkan cita-citaku untuk menjadi seorang insinyur pertanian dan mengabdi di desaku. Aku putuskan untuk pergi sekolah ke suatu kota yang jauh dan melewati laut yang luas. Sedih rasanya kutinggalkan kampung halaman terutama Angela yang begitu aku cintai. Stasiun ini menjadi saksi bisu perpisahan kami. Haru, pilu,………………sendu. Kami berjanji untuk saling menanti dan dia berikan aku sebuah saputangan berwarna biru dan bertuliskan nama kami berdua. Sedih rasanya berpisah……… “Jaga Angela untuku ya, Joe! Bisikku pada saat kereta membawaku menjauh dari dua orang yang aku sayangi demi sebuah impian.
Hari demi hari kulalui diperantauan, tak terasa sudah 5 tahun aku tinggalkan kampung halamanku. Semua tantangan dan hambatan yang menghadangku aku lalui dengan penuh semangat karena aku ingin cepat menyelesaikan pendidikanku untuk membangun desaku. Perjuanganku tidak sia-sia, aku dapatkan gelar yang selama ini aku kejar dengan nilai yang terbaik. Akhirnya aku bisa pulang ke kampung untuk mengamalkan ilmuku. Ingin cepat rasanya aku sampai dan mengabarkan hal ini kepada keluargaku, khususnya Angela yang sudah lama aku rindu. Di perjalanan aku memikirkan keadaannnya yang sampai hari ini tak kutahu kabarnya. Banyak surat yang telah kukirim namun tak satupun surat yang telah dia balas. Sudah lupakah dia kepadaku? Peluit kereta menyadarkanku bahwa aku telah tiba di stasiun dimana aku dulu pergi merantau. Aku sudah memberi kabar kepada Joe bahwa aku akan pulang hari ini. Setelah aku turun kulihat Joe sudah menanti. Dengan berbagai perasaan yang berkecamuk antara rindu dan ingin mengetahui keadaan segala sesuatu kuberlari mendapatkan dia yang masih berdiri terpaku.
“Hai Joe gimana kabarmu? Bagaimana kabarnya angela? Knapa tidak ada kabar tentang dia? Gimana desa kita sekarang? Lihat Joe aku sudah pulang dengan membawa kabar gembira”. Beribu pertanyaan aku lontarkan kepadanya. Namun aku tak menduga jawaban dari pertanyaanku itu, membuat hatiku hancur dan kecewa. Joe menceritakan bahwa dia sudah menikah dengan Angela.
Angin berhembus menyadarkan lamunanku dan kudengar Joe berkata : “Maafkan aku, Ri! Sebenarnya ini adalah perbuatan ibunya yang tidak menyetujui hubungan kalian berdua. Dulu aku juga menyalahkanmu karena kamu tidak pernah mengirim kabar kepada Angela. aku sangat kasihan dengan penderitaan yang dialami oleh Angela. baru setelah setahun kami menikah, terbongkarlah rahasia bahwa semua surat yang kau kirimkan untuk Angela telah disembunyikan oleh ibunya. Dia menderita karena hal itu dan akhirnya Angela jatuh sakit dan harus di bawa ke rumah sakit,……..namun (dengan kelu) Tuhan berkehendak lain. Angela akhirnya harus cepat menghadap kepada-Nya. “Maafkan aku ya Ri! Aku tak bisa menjaga Angela”. Dengan menangis Joe pergi meninggalkan aku yang termenung dan tidak percaya apa yang telah kudengar.
Kupandangi kepergian Joe dan kabut menutupi pandanganku, dia seolah-olah lenyap ditelan kabut. Aku terkaget mendengar bunyi gemuruh kereta yang melintas dengan cepat disampingku. Dan yang lebih kaget lagi kudengar teriakan minta tolong dari seseorang yang aku kenal. “Joe………….Joe!!!” Aku berteriak dan berlari kearah suara erangan itu. Samar-samar kulihat tubuh tergeletak dengan bermandikan darah segar dari sekujur tubuhnya. Aku berteriak minta tolong……dan orang-orang mulai berdatangan menolong aku mengangkat tubuh Joe yang diserempet oleh kereta api. Kami membawa dia ke rumah sakit.
“Dari debu kembali kedebu”: perkataan pendeta  mengantarkan jenasah Joe untuk dikebumikan. Aku menangis dan menyesal kenapa aku terlalu egois untuk mendapatkan apa yang tidak bisa aku raih. Pikiranku bergulat dan berperang dalam batinku “Kenapa aku terlalu memaksa dan memarahi Joe, orang yang sangat aku percayai, tanpa mau untuk mengerti apa yang sebenarnya terjadi”. Sekarang dia telah pergi, terbujur kaku di depanku. Aku begitu menyesal karena apalah artinya kudapatkan segala sesuatu tapi aku harus kehilangan orang-orang yang aku sangat cintai dan percaya. Sekarang aku mengerti bahwa cinta tak selamanya harus memiliki dan segala sesuatu yang terjadi ada alasan yang menyertainya dan aku bisa belajar dari apa yang dialami Joe mengenai makna kehidupan. Teringat aku akan kata-katanya yang terakhir waktu aku membawanya ke rumah sakit dan itu menyadarkanku betapa dia adalah sahabatku yang sejati. “Maafkan aku Ri atas apa yang telah terjadi diantara kita….”.
“Selamat jalan sahabat” seiring dengan kutaburkan bunga mawar merah yang harum dan akan terus kukenang persahabatan kita.

APAKAH AKU KESEPIAN?

Diam, menanti, saat semua datang dan pergi.
Aku tetap disini menanti.
Saat keheningan datang, kesepian menemani.
Tetapi aku tetap terdiam menanti.
Saat semua usaha gagal, semua hanya berputar di tempat.
Terulang lagi dan lagi.
 Saat ku sadar, ternyata aku hanya terdiam.
Apakah aku akan depresi, tertekan atau mungkin aku bangkit.
Saat semuanya berakhir.
Aku tetap menanti, menanti dan sedang menanti.
Jika ada tiga benda yang penting Oranye, Biru dan Putih, mana yang terbaik ya?
Semuanya tahu setelah keramaian berakhir yang tersisa hanya kesepian.
APAKAH AKU KESEPIAN?