Jumat, 31 Januari 2014

Untuk Kamu



Kamu adalah orang yang bertangan dingin dalam menangani orang-orang lain.
Kamu mau mendengarkan kesusahan-kesusahanku.
Kamu akan ikut tertawa mendengar lelucon-leluconku. Entah bagaimana aku bisa tahu bahwa perhatianmu adalah murni dan benar dan
Kamu akan melihat dengan mata kepala sendiri aku bertumbuh satu/ dua inci.
Kamu akan melihat wajah-wajahku berseri-seri dengan senyum kegembiraan yang meluap-luap.
Kamu tahu bahwa aku sudah menemukan secercah harapan yang bisa menghilangkan rasa takutku.
Kamu tahu bahwa aku sudah menaburkan benih-benih iman dan menaburi aku dengan kasih dan membuat aku merasakan kehadiran Tuhan di atas yang baik.
Kamu membersihkan semua rumput lalang keragu-raguan dan rasa takut dan kebencian dan keserakahan dan memberi aku kesempatan untuk menghirup napas.
Kamu tampak merasakan setiap kebutuhanku.
Kamu merawat aku dengan puji-pujian atas hal-hal baik yang sudah aku lakukan dan melatih aku untuk memandang ke atas dan untuk berdiri tegak di tempat yang baik.
Kamu agaknya bertangan dingin seperti petani dengan tanahnya tetapi pekerjaannya adalah menumbuhkan manusia agar menjadi serupa dengan gambaran Allahnya.
Dari Aku
(Note: Catatan yang dibuat seorang teman saat aku masih kuliah S1 Keperawatan)

DIMANA TUHAN



Aku menemukan catatan ini pada lembaran kertas yang telah lama aku simpan. Sejujurnya aku tidak ingat dari mana aku dapat menulisnya, yang ku ingat hanya saat aku SMA.
DIMANA TUHAN
Dimana Tuhan? Ayub adalah contoh terbaik, walaupun Ayub tidak bersalah, ia tetap menderita. Apakah Tuhan tidak adil? Di dalam kitab Ayub terlihat bahwa walaupun iblis merancangkan kejahatan dan Tuhan memang mengijinkannya, tetapi Tuhan tetap memberi batasan. Ia tetap menjaga dan memperhatikan Ayub.
Kadang manusia ketika berada dalam kesulitan mulai menyalahkan. Memang Ayub, Habel, maupun orang-orang korban Mei 1996 tidak berharap dan tidak menginginkan musibah itu. Tuhan tidak menghilangkan musibah tetapi Tuhan menjaga dan menolong untuk melalui musibah itu.
Memang Habel mati tetapi nyawanya dipandang dan berkenan di mata Tuhan. Memang Ayub menderita begitu sangat tetapi pada akhirnya ia bahagia. Memang para korban Mei tidak mengalami berbagai muzijat walau ada sebagian, bukan berarti Tuhan pilih kasih, tetapi setiap orang menanggung beban masing-masing sesuai kemampuannya yang tidak dapat disamakan, maka sekarang tinggal sikap kita. Akankah kita seperti Saul yang malah berbuat dosa dengan datang ke pemanggil arwah saat tertekan atau malah teruji menjadi emas.
Memang jawaban ini klise, tetapi Tuhan akan menolong kita untuk keluar bangkit dan malah menjadi emas. Jika kau orang Kristen, Tuhan Yesus berkata untuk pikul salib dan ikut Dia. Ada perumpamaan kita hidup sama seperti naik pesawat dan pilotnya Tuhan. Tuhan tidak pernah menjanjikan penerbangan yang nyaman tetapi Ia menjanjikan pendaratan yang aman.
(Note: Tulisan ini hanya refleksi pribadi dan ditujukan pada diri sendiri)